Indonesia Masih Ketergantungan Impor Garam

Petani garam Indonesia

Volume dari tahun ke tahun terus bertambah, itulah yang Indonesia lakukan untuk komoditi garam Indonesia.

Garam sebagaimana kita ketahui dipakai sebagian besar untuk kebutuhan industri, seperti industri ikan beku, pengawetan makanan, dan masih banyak untuk kebutuhan lainnya.

Menurut informasi BPS (Badan Pusat Statistik) Jakarta, dalam lima tahun terakhir kegiatan impor garam yang dilakukan indonesia naik secara signifikan. Total 2014 volume impor garam masih diangka 2,268 juta ton dan menjadi naik di tahun 2018 sebesar 2,839 juta ton. Ada kenaikan yang sangat besar sampai 571 juta ton dalam waktu lebih kurang empat tahun.

Namun dilain sisi nilai impor garam justru tidak mengalami kenaikan akibat faktor perkembangan harga. Ditahun 2014 nilai impor garam sebesar 10,346 juta USD, dan pada tahun 2018 sebesar 90,615 juta USD atau sama dengan 1,2 triliun rupiah.

yang cukup menyedihkan negara yang mensupplai garam ke Indonesia justru dari negara tetangga kita yang tidak lebih besar dari pulau Nias yang ada di Sumatera Utara yaitu Singapura sebesar 239 ton pada tahun 2018 dan disusul negeri Tiongkok sebesar 899 ton lalu dipuncak penyuplai garam terbesar ke Indonesia datang dari negeri kangguru yaitu Australia sebesar 2,603 juta ton dengan nilai 82,389 juta USD dan India sebesar 227.925 ton dengan nilai 5,597 juta USD pada tahun 2018.

Pemerintah sebagai pengontrol ketersediaan garam di Indonesia telah memberikan izin untuk kegiatan impor garam pada tahun 2019 maksimal 2,75 juta ton. Namun sampai Akhir 2019 AIPGI atau Asosiasi Industri Pengguna Garam Indonesia menyampaikan telah ada garam yang masuk ke Indonesia sebesar 1,54 juta ton.

Ketika ibu Susu Pudjiastuti menjabat Menteri Kelautan dan Perikanan Indonesia, permasalahan impor garam tidak hanya pada kemampuan dan kualitas produksi dalam negeri saja. Namun diisukan adanya “Mafia” garam di Indonesia. Juga tidak menutup kemungkinan ada Kartel Garam Impor yang bermain di Indonesia.

Share this: